Tampilkan postingan dengan label LIFE. Tampilkan semua postingan
Dunia ini, tempat dimana manusia terbuai oleh keinginan-keinginan. Khilaf, dan dilenakan oleh kesenangan yang hanya sesaat. Tak sadar, hidup dikuasai oleh keserakahan, kekufuran akan nikmat yang diberikan. Manusia yang hanya bisa meminta, mengeluh, dan putus asa. Makhluk Tuhan yang ditugaskan menjadi khalifah di muka bumi ini, namun selalu menyalahkan Tuhannya.
Ketika mendapatkan apa yang diinginkan, manusia mendadak lupa. Tersenyum, tertawa, riang gembira. Tak menyadari bahwa Tuhan memberi rezeki setiap hari. Memberikan kesempatan bernapas dalam hari-hari. Memberikan kesehatan yang jarang disadari.
Ketika merasa sendiri, manusia tak sadar bahwa Tuhan selalu mengawasi. Tuhan selalu ada untuk kita saat ingin mencurahkan hati. Selalu memberi petunjuk melalui perantaraNya. Ya, semuanya itu memang selalu tanpa disadari.
Manusia banyak mengeluh, marah tak jelas, dan kebingungan. Manusia memang seperti itu. Ketika diberi cobaan, barulah ingat pada Tuhan.
Semoga Tuhan mengampuni kita, dan semoga kita adalah manusia yang selalu ingat.
Aamiin.
Many words that evaporate with the wind around me
Senin, 24 November 2014
Posted by Nurinaernest
Tag :
DAY BY DAY,
LIFE
Ketika kita beranjak dewasa, banyak orang yang kita temui dimana pun kita hidup. Termasuk orang-orang hebat yang mampu memberikan inspirasi.
Aku banyak bertemu dengan orang-orang hebat seiring waktu berjalan, tapi ketika aku berhadapan dengan mereka suatu waktu, terkadang aku menjadi lupa apa yang harus tanyakan padanya. Padahal ketika tidak bertemu, ada banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan, walaupun hanya beberapa pertanyaan sederhana.
Aku sangat menyesalkan hal itu. Ada banyak kata yang menguap bersama angin di sekelilingku. Apakah aku dan kamu bisa bertemu lagi seperti kemarin?
Aku banyak bertemu dengan orang-orang hebat seiring waktu berjalan, tapi ketika aku berhadapan dengan mereka suatu waktu, terkadang aku menjadi lupa apa yang harus tanyakan padanya. Padahal ketika tidak bertemu, ada banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan, walaupun hanya beberapa pertanyaan sederhana.
Aku sangat menyesalkan hal itu. Ada banyak kata yang menguap bersama angin di sekelilingku. Apakah aku dan kamu bisa bertemu lagi seperti kemarin?
Pagi ini seekor kecoa terbang membangunkan tidur nyenyakku. Kecoa yang dengan tiba-tiba masuk ke kamar kosku tanpa permisi. Mendengar suara sayapnya, aku terbangun dengan sigap. Aku meraih sapu cepat dan menyerangnya. Ia masih hidup dan merayap keluar. Tubuhnya berwana cokelat (warna kesukanku), tetapi bukan binatang kesukaanku. Aku jadi teringat ketika Afifah Afra menanyaiku ketika workshop "Apakah yang kamu takuti?" . Seharusnya aku menjawab kecoa terbang pada waktu itu. Tapi aku justru menjawab "Takut dosa". Yang justru sekarang ini aku tidak takut dosa telah memukul kecoa itu dengan sapu.
Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk mengambil wudlu. Dini hari seperti ini, kuputuskan untuk sholat tahajjud. Aku kembali teringat akan kecoa tadi. Begitu hebatnya dia yang mampu membangunkanku lebih cepat dibandingkan alarm sekeras apapun. Aku terbangun dan sholat karena tergugah oleh kecoa terbang. Pelajaran yang dapat dipetik hari ini adalah: kadang kita terbangun dan tersadar karena sesuatu yang kita benci hadir secara tiba-tiba. Ya, seperti kecoa tadi.
8 November 2014
Gelora jiwa hasrat berkarya
Hantar ragaku kepadamu
Derap serempak dalam segala
Satukan semua jadi saudara
Hentak langkah nan penuh makna
Singsingkan lengan baju
Majulah maju
Seni rupaku
Satu kata dan satu rasa
Satu dalam suka gulana
Siaga jiwa sambut dunia
Hantar ragaku kepadamu
Derap serempak dalam segala
Satukan semua jadi saudara
Hentak langkah nan penuh makna
Singsingkan lengan baju
Majulah maju
Seni rupaku
Satu kata dan satu rasa
Satu dalam suka gulana
Siaga jiwa sambut dunia
Ketika aku memandang wajahmu, aku merasakan teduh dan hangatnya tatapan itu. Walaupun aku sadar, kamu tak setampan itu, tapi bagiku kamu menarik. Ada banyak sifat dan karakter baik yang kamu miliki.
Tapi kusadari aku seperti hanya seorang friend dan fans, mungkin. Aku merasa perasaan ini hanya ada padaku dan tidak sebaliknya.
Tetapi dengan memiliki perasaan ini, aku mengerti bahwa cinta bukan soal penampilan luar tetapi tentang kebaikan hati.
Tapi kusadari aku seperti hanya seorang friend dan fans, mungkin. Aku merasa perasaan ini hanya ada padaku dan tidak sebaliknya.
Tetapi dengan memiliki perasaan ini, aku mengerti bahwa cinta bukan soal penampilan luar tetapi tentang kebaikan hati.
When I look at your face, I feel calm and warmth of that look. Although I am aware, you are not as handsome as it is, but to me you are interesting. There are many qualities and good character you have.
But I realized as just a friend and a fan, maybe. I feel this feeling there's only me and not vice versa.
But to have these feelings, I understand that love is not about outward appearance but about kindness.
But I realized as just a friend and a fan, maybe. I feel this feeling there's only me and not vice versa.
But to have these feelings, I understand that love is not about outward appearance but about kindness.
Sebagai mahasiswa anak rantau (anak kos), tentu harus pandai-pandai mengatur uang. Terlebih lagi bila kita kuliah di kota yang biaya hidupnya tidak murah, atau yang harga makanannya mahal. Dalam mata kuliah "Menggambar Manusia" yang aku terima saat mata kuliah semester 2, dosenku yang bernama Pak Arfial Arsad Hakim menceritakan pengalamannya saat kuliah di Institut Teknologi Bandung. Dan pengalamannya yang luar biasa. Menjadi mahasiswa seni rupa memang banyak sekali kebutuhan unttuk berkarya yang tidak murah. Seperti sketchbook, alat lukis, kanvas, dan sebagainya. Jadi apabila ada yang bertanya, "Jadi, kamu kuliah hanya gambar-gambar saja?" sebenarnya agak kesal juga sih. Karena menurutku kuliah di Seni Rupa Murni itu tidak hanya menggambar saja. Banyak hal lain yang kami pelajari. Seperti mempelajari karakter, makna dalam sebuah karya, pengetahuan seni, fotografi, juga komputer grafis.
Nah, tidak semua mahasiswa mendapat uang saku yang lebih dari orangtua. Terkadang ada yang hanya uang makan, namun tidak diberi uang saku untuk membeli bahan-bahan kelengkapan untuk berkarya. Jadi kata pak Arfial, kalau ingin kanvas, ya nabung. Bagi Pak Arfial dulu, terkadang beliau tidak makan untuk dapat membeli kertas gambar. Ya jadi begitulah. Hidup itu perlu pengorbanan. Bila kita menginginkan sesuatu, kita terkadang harus mengorbankan sesuatu yang lain.
Inilah hidup.
As a child overseas students (children boarding), would have to be very clever to manage money. Even more so when we are in town the cost of college life is not cheap, or expensive food prices. In the course "Drawing People" that I received when subjects 2nd semester, my professor named Mr. Arfial Arsad Judge recounts in college at Bandung Institute of Technology. And an incredible experience. Being a student of fine arts is a lot of work that needs unttuk not cheap. As sketchbook, painting tools, canvas, and so on. So when someone asks, "So, you just college pictures alone?" actually rather annoyed anyway. Because I think in Fine Arts college was not only drawing only. Many other things that we learned. As a character study, meaning in a work, knowledge of art, photography, computer graphics as well.
Well, not all students get more pocket money from parents. Sometimes there is only money to eat, but not given pocket money to buy materials for the completeness of the work. So Mr. Arfial said, if you want a canvas, yes saving. For Mr. Arfial first, sometimes he does not eat to be able to buy a piece of paper. Yes so it is. Life was necessary sacrifice. If we want something, we sometimes have to sacrifice something else.
This is life.
Well, not all students get more pocket money from parents. Sometimes there is only money to eat, but not given pocket money to buy materials for the completeness of the work. So Mr. Arfial said, if you want a canvas, yes saving. For Mr. Arfial first, sometimes he does not eat to be able to buy a piece of paper. Yes so it is. Life was necessary sacrifice. If we want something, we sometimes have to sacrifice something else.
This is life.
Hmm.. Ramadhan memang banyak sekali godaan. Kita juga harus
pintar-pintar mengendalikan hawa nafsu. Juga harus menahan diri kita
dari emosi.
Aku punya kisah tentang sahabatku yang memiliki kesabaran luar biasa.
Jadi ceritanya begini.. Aku ingin mengikuti Karikatur Contest yang
diadakan sebuah Mall. Aku menceritakan hal itu pada sahabatku, namanya
Hikmah yang satu jurusan di Seni Rupa Murni di salah satu Universitas di
Surakarta. Hikmah mendukungku dan berkata akan menemaniku mendaftar dan
juga saat lomba. Lomba dilaksanakan tanggal 29 Juni 2014 kemarin. Tepat saat
awal puasa. Kebetulan kami yang mahasiswa rantauan belum pulang kampung
karena suatu urusan. Kebanyakan dari teman kami sudah pulang kampung.
Tanggal 28 aku berangkat untuk mendaftar. Aku mengajak Hikmah
berangkat di pagi hari pukul 9 WIB naik Batik Solo Trans. Tiba disana,
kami kebingungan karena Mall tampak sepi.
“Lhoh, kok sepi ya Hikmah?” kataku pada Hikmah memandang Mall yang
sepi pengunjung. Bahkan masih banyak toko-toko dan court yang masih
tutup. Waktu itu menunjukkan pukul 9.30.
“Iya, ya. Tumben Mall sepi begini.” ujar Hikmah sambil mencari tempat duduk.
Melihat Pak Satpam yang melintas, aku bertanya padanya.
“Pak, bagian Informasi dimana, ya?”
“Oh, di lantai 1, tapi bukanya jam 10 nanti.” jawab Pak Satpam. Oh, pantas masih sepi. Ternyata aku kepagian!
Kami pun menunggu hingga jam 10 sampai bagian informasi buka. Dan
ketika sudah buka, kami segera menuju kesana. Biaya pendaftaran
Karikatur Contest Rp 15.000,00. Bapak di bagian informasi mengatakan
kalau lomba dimulai pukul 5 sore besok. Aku tercengang dan kaget. Haa
Trus kami akan naik apa pulangnya? Sedangkan kendaraan umum yang
beroperasi di malam hari hanya taksi dan becak, pasti sangat mahal.
Maklum kami memang tidak membawa kendaraan pribadi disini. Aku menoleh
ke Hikmah dan mataku mengisyaratkan kebingungan. Tapi Hikmah menatapku
dengan teduh dan tersenyum seakan memberiku jawaban bahwwa aku tetap
harus ikut dan tidak usah khawatir. Aku mengajak Hikmah mendaftar juga,
tapi dia tidak mau. Setelah mendaftar, kami pun tidak langsung pulang.
Hikmah mengajak berjalan-jalan dulu. Kami pun berjalan-jalan mengunjungi
tempat-tempat di Solo hingga tak sadar sudah berjalan jauh sekali.
Pulang dari perjalanan panjang tersebut, kami membeli mie ayam dengan
porsi yag sangat banyak dan es buah yang manis sekali.
Esoknya..
Pagi-pagi setelah sahur, aku dan Hikmah sangat mengantuk. Selama 2
hari Hikmah menginap di kosku dan kami jarang tidur di malam hari. Kami
mengobrol banyak hal. Hingga siang kami masih tertidur dengan pulas.
Pukul 13.30 kami terbangun dan segera beranjak sholat Dhuhur. Hikmah
berniat mengajakku membeli laptop dulu sebelum ke Mall. Akhirnya kami
berangkat pukul 15.00 dan saat sudah berada dalam Batik Solo Trans,
Hikmah tiba-tiba teringat sesuatu.
“Oh iya, ini kan hari Minggu. Bukankah toko-toko tutup?”
“Oh iya, ya ampun. Aku lupa Hikmah. Gimana dong? Aku juga lupa. Kita terlalu dini dong berangkatnya.” Aku mulai panik.
“Yaudah nggakpapa.. kita langsung ke Mall aja nunggu disana.” Lagi-lagi Hikmah tetap menjawab santai dan tanpa beban.
Sesampainya di Mall..
Ternyata menunggu hingga pukul 17.00 tidaklah sebentar. Kami pun
berputar-putar di Mall tersebut. Naik eskalator hingga lantai paling
atas, turun lagi, naik lagi, turun lagi, dan kebingungan dimana lokasi
lombanya. Aku bertanya lagi di bagian informasi. (Duh kenapa tidak tanya
dari tadi, ya? Hm). Bagian Informasi ada di lantai bawah. Dan kami pun
turun lagi.
“Lokasinya di First Floor, naik eskalator 2 kali, dekat dengan Cinema XXI.”
“Oh iya, terimakasih.”
Aku dan Hikmah pun tertawa. Ternyata lokasi tempat lomba berada di lantai yang tadi sudah kami lewati.
Panitia mengatakan lomba diundur pukul 18.00 dan akan berakhir pukul
21.00. Mereka menyilakan kami bila ingin mencari makanan berbuka dahulu
sebelum kembali lagi. Kami lupa membawa makanan, dan akhirnya mencari
jajan yang murah di lantai bawah. Kami pun turun lagi untuk yang
kesekian kalinya hingga kami tak mampu menghitung berapa kali naik
turun. Ini adalah buka puasa kami yang pertama di kota Solo sebagai anak
rantau.
“Hikmah, nggak apa-apa nih?”
“Nggak apa-apa, lhoo. Santai.” kata Hikmah.
“Tapi, nanti sampai malam, lho. Kita pulangnya gimana? Hikmah pulangnya gimana? ”
“Ya daripada kamu sendirian, kan? Aku temenin deh pokoknya sampai
selesai.” jawab Hikmah. Duh, aku terharu sekali mendengar jawaban Hikmah.
Sabar sekali dia! :’)
—
Lomba dimulai, dan Hikmah menunggu di dekatku. Lagi-lagi aku menoleh ke Hikmah dan khawatir, merasa tidak enak.
“Hikmah, 3 jam lama lho. Nggak papa nunggu lama banget?”
“Santai, lho. Tenang aja.” jawab Hikmah.
Hingga lomba selesai Hikmah pun menungguku. Melihat peserta yang lain
gambarannya bagus-bagus sekali. Aku pun minder dan firasat kalau kalah.
Tapi Hikmah tetap mendukungku dan mengatakan kalau aku harus semangat.
Karena lomba langsung diumumkan pemenangnya, kami menunggu hingga pukul 22.00.
Ternyata benar. Aku kalah. Dan Hikmah tetap menghiburku. Dan aku tahu kenapa aku kalah. Mungkin karena Zydan kubuat botak xD.
sebut saja Zydan xD
“Sudah, nggak apa-apa. Yang penting untuk bukan kemenangannya. Tapi
pengalaman.” kata Hikmah sambil tersenyum. Aku merasa makin tidak enak
padanya karena dia sudah menemaniku, menunggu, dan hasilnya ternyata
tidak seperti yang diharapkan. Selesai pengumuman, Hikmah mengajakku ke
kamar mandi. Ternyata sejak tadi dia sabar menungguku padahal dia
kebelet buang air kecil. Duh!
Karena sudah malam banget aku dan Hikmah bingung akan tidur dimana.
Hikmah mengatakan jangan naik taksi karena mahal. Toh kos juga sudah
ditutup. Akhirnya aku dan Hikmah memutuskan untuk berjalan hingga
Stasiun Balapan sambil menunggu pagi tiba. Lumayan jauh kami berjalan di
malam tersebut dan suasana sangatlah sepi. Kami benar-benar
“nggelandang” saat itu.
Di stasiun, para pegawai banyak yang menonton Piala Dunia. Hikmah
ikut menontonnya, tapi kulihat wajahnya sudah mengantuk. Malahan Hikmah
menyuruhku tidur tetapi dia tidak tidur. Tak terasa kami belum tidur
sejak malam hingga pagi pun datang.
Oh, sabar sekali sahabatku ini
Semoga Hikmah mendapatkan pahala yang besar atas kesabarannya itu! Aamiin.
–
Nah, sekian kisah dariku. Semoga kisah ini ada hikmahnya buat kalian
Allah pasti akan menghadiahkan kebaikan untuk manusia-manusia yang sabar seperti Hikmah.
Hari ini adalah hari yang sangat cerah. Banyak sekali yang membicarakan tentang Full Moon di sosial media. Tapi, terlalu asik main jejaring sosial membuatku menunda untuk sekedar menengok ke langit apakah benar sedang Full Moon. Ketika aku sedang menyalakan hapeku yang sejak tadi mati karena ku-charge, ternyata ada sms Kakak Alam jam 20:40 tadi memberitahu kalau sedang Full Moon.
Dan seketika aku langsung keluar dan melihat ke arah langit. Angin berhembus begitu dingin. Dan bulan tak nampak :(. Hari ini bulan memberiku pelajaran bahwa kesempatan itu harus dimanfaatkan dengan baik. Hari ini aku melewatkan pemandangan yang sangat menakjubkan yang diberikan oleh Tuhan. Aku sangat menyesal telah melewatkannya.
---
Today was a very sunny day. There is so much talk about the Full Moon in social media. However, social networking is too cool to play made me pause for a look up at the sky whether it is Full Moon. When I was lighting my phone who had died because of my charge, there was a short message from Alam at 20:40 was told that was the Full Moon.
And once I go out and look towards the sky. The wind blows so cold. And the moon is not visible :(. Months gave me a lesson today that the opportunity should be utilized properly. Today I missed a very amazing with the view from God. Really sorry I have missed it.
And once I go out and look towards the sky. The wind blows so cold. And the moon is not visible :(. Months gave me a lesson today that the opportunity should be utilized properly. Today I missed a very amazing with the view from God. Really sorry I have missed it.
Sering-seringlah melihat langit ketika malam hari. Barangkali bintangnya indah. Jadi postingan ini ingin aku beri judul "Menatap Bintang bersama Kakak Tingkat" tapi tidak jadi.
Tanggal 18 Juli 2014, aku diajak Kakak Alam pergi ke kampus pukul 20.30. Tahu tidak perasaanku saat itu? Aku merasa selama kuliah ini jadi benar-benar bebas dan sering melakukan sesuatu hal baru yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Seperti menatap bintang di langit kampus di malam hari. Lalu aku kira Kakak Alam sedang mengerjakan tugas besar bersama kakak-kakak tingkat yang lain. Ternyata, mereka memang terbiasa menatap bintang dan ngobrol bersama. Akhirnya aku pun ikut serta. Kakak Alam menjemputku, dan tiba di kampus, kami menembus bukit berumput dekat studio keramik karena portal di tutup. Disana ada Mas Akhri dan Kak Cemong. Kak Cemong pun menggelar tikar dan aku menatap bintang bersama mereka bertiga.
Kakak Alam mengatakan padaku mumpung aku sedang bersama orang-orang yang pintar di bidangnya, jadi aku harus memanfaatkan kesempatan tersebut. Aku disuruh bertanya tentang hal-hal yang ingin kutanyakan. Tapi aku malah jadi bingung sambil menatap Mas Akhri yang sedang main Facebook, disusul dengan Kak Cemong yang nonton video Payung Teduh.
Ada banyak hal sebenarnya yang ingin kutanyakan saat itu yang semuanya menguap bersama dinginnya angin yang berhembus. Kak Cemong kedinginan, tapi anehnya aku sangat kepanasan. Aku merasakan gatal-gatal di sekitar wajahku. Entah mengapa. Padahal baru saja mereka bertanya padaku apakah aku punya alergi dingin dan aku menjawab kalau aku tidak punya alergi.
Ini adalah pertama kalinya aku menatap bintang di langit Parkinsen. Kuakui bintang malam itu sangat indah. Aku jadi tersadar bahwa banyak hal-hal yang menakjubkan di dunia ini yang terlewatkan dan tidak tersadari di hidupku. Padahal hal-hal itu sering terjadi. Mereka mengobrol tentang Milky Way, rasi, gugusan, hingga Pasar Seni di Bandung.
Kata Kakak Alam, sebenarnya aku tidak perlu belajar di Seni Rupa Murni. Cukup teruskan saja menulisnya pasti bisa oke dan keren. Tapi aku menyanggahnya. Menurutku justru lebih menyenangkan kalau bisa mempelajari keduanya sekaligus.
Kata mereka aku sangat polos, :( hingga mereka tertawa dan bertanya apakah aku sudah pacaran atau belum. Tapi kata mereka orang yang polos itu justru menyenangkan karena membuat temannya tertawa dan terhibur. Jadi sebenarnya aku polos atau bodoh -_-
Malam semakin dingin, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Kalau tidak salah hampir pukul 12 malam. Kukira akan sampai tiba saatnya sahur akan di kampus. Ternyata tidak. Dan menatap bintang di langit Parkinsen ini tidak akan pernah aku lupakan.
Look at the Sky dan kamu akan bersyukur bisa menikmati indahnya bintang di langit malam :)
Suatu hari, aku dan teman-teman seangkatan sedang berada di Hotspot Sastra FSSR UNS. Yaitu tepatnya di dekat Gedung 3. Lalu, kakak tingkatku (namanya Kak Ananda) tiba-tiba datang dan duduk bersama kami.
Kak Ananda lalu bertanya padaku tentang proyek cerpenku yang akan dicetak oleh Parkinsen. (bingung dengan proyek ini? ask.fm/Nurinaernest). Aku menjawab kalau aku belum selesai dalam proses editingnya. Lalu kak Ananda memberi semangat, dan mengatakan kalau libur panjang justru kesempatan yang sangat menarik untuk menyelesaikan suatu proyek. Kak Ananda lalu menyuruhku untuk segera menghubungi Kakak Alam selaku editor. Bahkan kak Ananda bertanya apakah karya tersebut akan diadakan semacam diskusi. Aku sangat terkejut, pemikiran kak Ananda sangat spektakuler, bahkan aku tak berpikiran sejauh itu.
Hening sejenak, pandangan Kak Ananda tertuju pada koran yang tergeletak. Tertarik dengan koran yang dibeli Anis, tiba-tiba Kak Ananda bertanya,
"Ini koran yang beli siapa?"
"Anis" jawabku.
"Ini disobek sedikit nggak apa-apa?" tanya Kak Ananda lagi ketika ia menemukan rubrik kecil di sudut halaman yang menurutnya menarik. Ternyata rubrik itu menampilkan tentang seni yang berkaitan dengan budaya. Aku bahkan belum menemukan rubrik itu ketika membolak-balik koran tersebut. Kak Ananda terlihat antusias dan sangat senang ketika menyobek rubrik itu dan berkata akan membawanya pulang. Wajahnya terlihat berseri-seri. Bahkan Kak Ananda menceritakan tentang peluang besar untuk para seniman yang terkadang tidak di-share terlalu banyak. Dan aku berpikir, ternyata banyak sekali yang belum aku ketahui.
Ada beberapa pesan moral yang aku dapatkan dari peristiwa Kak Ananda menyobek salah satu rubrik tersebut. Yaitu:
1. Setiap kita menemui suatu hal/peristiwa dalam keseharian kita, kita harus jeli. Apapun itu, termasuk salah satunya rubrik di sudut halaman koran. Karena informasi besar kadang berada di sudut kecil halaman koran yang kita baca.
2. Kita harus bersemangat mengerjakan tugas-tigas kita. Jadikan itu kesenangan hidup.
3. Kita harus membagikan informasi baik yang kita terima kepada teman-teman.
Jadi, ketika membaca koran, aku selalu teringat hal tersebut. Jangan anggap sepele hal apapun :)
Sesuai judul di atas, menang itu memang tidak harus berupa piala. Seumur hidupku ini, mulai aku pertama masuk sekolah hingga sekarang aku tak pernah mendapat piala. Walaupun aku memang menginginkannya, tapi aku sadar bahwa aku tak terlalu membutuhkan itu. Yang penting, aku berprestasi. Tak perlu sebuah penghargaan, yang terpenting batinku bisa puas.
Ini adalah catatan ucapan selamat mulai dari aku mengikuti lomba mewarnai di majalah TK, hingga sampai kuis-kuis dan kontes di FB dan Twitter. Juga dari dari media sosial lain seperti keranjangbesar.com, cybercity.com dan statusbook.com. Aku harus mensyukuri semua itu.
Alhamdulillah. Semua ini begitu indah.
28 Juli 2012
As the title above, it does not have to win a trophy. This my life, I first started going to school until now I never got the trophy. Although I wanted to, but I realized I do not really need it. Importantly, I excel. Needless to an award, the most important thing I told myself to be satisfied.
It was a congratulatory note from me to follow the magazine coloring contest in kindergarten, up until the quizzes and contests on FB and Twitter. Also from other social media such as keranjangbesar.com, cybercity.com and statusbook.com. I should be grateful for all of it.
Alhamdulillah. All of this is so beautiful. :)
It was a congratulatory note from me to follow the magazine coloring contest in kindergarten, up until the quizzes and contests on FB and Twitter. Also from other social media such as keranjangbesar.com, cybercity.com and statusbook.com. I should be grateful for all of it.
Alhamdulillah. All of this is so beautiful. :)
July 28, 2012
Tampak seorang penjual di sebuah pasar tua, marah dan mendengus kesal. Hari ini tak laku lagi. Mungkin itu sebuah keluhan yang umum bagi seorang penjual disitu. Tapi ia tetap merasa hanya dia yang kesusahan. Dialah penjual buku bekas dan koran bekas. Dia merasa susah saat banyak orang mencari buku baru dan tak melirik sama sekali pada barang dagangannya.
Hari ini tadi, dia baru saja berdebat dengan orang-orang yang membawa setumpuk koran. Ia beli murah, tentu saja. Mencari keuntungan begitu sulit, apabila ia beli dengan harga mahal. Dan orang yang habis berdebat dengannya merasa tak terima, dan akhirnya memberikan setumpuk koran dengan cuma-cuma. Bukan senang, penjual itu justru marah, dan merasa terhina. Hampir saja adu mulut terjadi bila Jamal si penjual mi tak datang melerai.
Tapi hari-hari ini tampaknya lain. Keberuntungan? Mungkin saja. Banyak anak sekolah rata-rata anak SMA mampir dan mengunjungi kiosnya. Dengan wajah dan sikap ramah, ia tampakkan sifat ke-penjualan yang berusaha menyenangkan anak-anak itu. Dan dia tampak begitu berseri melihat banyak anak sekolah mencari koran bekas yang ia jual.
Lima menit setelah itu, datang lagi dua orang anak. Dengan beban berat tas di pundak, datang berkunjung dan bertanya pada si penjual itu. Dia kembali ramah. Mencari koran bekas dan memamerkannya pada dua bocah itu. Bertumpuk-tumpuk koran ia suguhkan, dan menyuruh mereka memilihnya sendiri. Awalnya dua bocah itu merasa senang dengan keramahannya. Tak tau apa yang bakal terjadi nanti. Sibuk mencari, memilih, diantara tumpukan.
Setelah dapat mereka temukan apa yang dicari, datanglah kembali penjual itu. Menghitung dan berkata,
"Berapa lembar yang mau kalian beli? Satu lembar 1500,"
Tampak dua bocah itu terkejut. Begitu mahal harga yang harus di bayar untuk 8 lembar koran bekas seharga delapan ribu rupiah.
"Lain kali datang lagi," kata penjual itu.
"Tentu saja, Tentu kami tak kan sudi kesini lagi," jawab dua bocah itu dalam hati. Sambil berlalu dan mengumpat kesal.
Hari ini tadi, dia baru saja berdebat dengan orang-orang yang membawa setumpuk koran. Ia beli murah, tentu saja. Mencari keuntungan begitu sulit, apabila ia beli dengan harga mahal. Dan orang yang habis berdebat dengannya merasa tak terima, dan akhirnya memberikan setumpuk koran dengan cuma-cuma. Bukan senang, penjual itu justru marah, dan merasa terhina. Hampir saja adu mulut terjadi bila Jamal si penjual mi tak datang melerai.
Tapi hari-hari ini tampaknya lain. Keberuntungan? Mungkin saja. Banyak anak sekolah rata-rata anak SMA mampir dan mengunjungi kiosnya. Dengan wajah dan sikap ramah, ia tampakkan sifat ke-penjualan yang berusaha menyenangkan anak-anak itu. Dan dia tampak begitu berseri melihat banyak anak sekolah mencari koran bekas yang ia jual.
Lima menit setelah itu, datang lagi dua orang anak. Dengan beban berat tas di pundak, datang berkunjung dan bertanya pada si penjual itu. Dia kembali ramah. Mencari koran bekas dan memamerkannya pada dua bocah itu. Bertumpuk-tumpuk koran ia suguhkan, dan menyuruh mereka memilihnya sendiri. Awalnya dua bocah itu merasa senang dengan keramahannya. Tak tau apa yang bakal terjadi nanti. Sibuk mencari, memilih, diantara tumpukan.
Setelah dapat mereka temukan apa yang dicari, datanglah kembali penjual itu. Menghitung dan berkata,
"Berapa lembar yang mau kalian beli? Satu lembar 1500,"
Tampak dua bocah itu terkejut. Begitu mahal harga yang harus di bayar untuk 8 lembar koran bekas seharga delapan ribu rupiah.
"Lain kali datang lagi," kata penjual itu.
"Tentu saja, Tentu kami tak kan sudi kesini lagi," jawab dua bocah itu dalam hati. Sambil berlalu dan mengumpat kesal.
Dalam catatan ini: RHyca AMmelliya

