Tampilkan postingan dengan label SHORT STORY. Tampilkan semua postingan
The Story of Pinko and Shipo
Selasa, 15 September 2015
Posted by Nurinaernest
Tag :
APPRECIATE IT,
SHORT STORY
Pinko, seekor kucing yang sedang sendiri. Menikmati setiap waktu dengan memandang dunia secara berbeda..
"Aku Pinko, kucing yang suka warna pink. Aku terbiasa dengan kesendirian, dan tak punya waktu untuk bersedih.."
(1)
#ToyPhotography #ToyStory #Fabel
"Aku Pinko, kucing yang suka warna pink. Aku terbiasa dengan kesendirian, dan tak punya waktu untuk bersedih.."
(1)
#ToyPhotography #ToyStory #Fabel
"Miaaw.. Sejatinya aku adalah rautan pensil yang akan setia membantumu meraut. Mempertajammu untuk memulai goresan baru."
(2)
"Namun, dalam kesendirian ini aku tetap membutuhkan seorang teman untuk berbagi."
(3)
(3)
"Tak pernah lelah untuk menanti"
(4)
Dan sampai akhirnya engkau datang..
"...Manis." kata Shipo dalam hati. Kambing putih yang tiba-tiba hadir.
"Miaaw. Aku Pinko. Siapa namamu?"
"Aku Shipo.."
(5)
"Ketika aku berada di dekatmu, rasanya.. mataku tak sanggup untuk menatap binar ceriamu. Susah untukku berpaling, karena senyum manismu menyejukkan hatiku..dan jantungku berdegup kencang."
(6)
"Hari demi hari, menjalani waktu bersama.. Dalam jarak sedekat ini, perasaanku selalu ceria."
(7)
"Menatap masa depan, bercerita tentang impian.."
(8)
Di tengah waktu, kita sama-sama bertanya.. Apakah perbedaan akan membuat kita berpisah?
"Karena aku kucing dan kamu kambing, apakah kita tidak bisa bersama?"
"Karena aku kambing dan kamu kucing, apakah kita tidak bisa bersama?"
(9)
"Pinko.. Apakah kamu akan pergi?"
"Aku akan kembali Shipo.."
"Pinko.. Jangan lupakan aku. Aku masih ingin menjalani waktu bersamamu.."
(10)
"Berat untuk mengatakan kita harus berpisah. Namun bila selalu berada di dekatmu, aku takut perasaan ini akan semakin dalam.."
(11)
"Sendiri lagi. Dengan sejuta kenangan"
END
#MissYouShipo
(12)
Short Story written by: Nurinaernest
N73
"Bapak akan berangkat sekarang, Bu?" tanyaku pada Ibu. Aku segera membuka jendela. Dan aku melihat pemandangan langit sore yang luar biasa. Sejak kapan rumahku berada di atas langit seperti ini? Kereta-kereta gantung menghiasi langit yang nampak kemerah-merahan. Awan-awan nampak ceria dan bergumpal laksana marshmallow yang nikmat untuk dimakan sebagai santapan senja. Mulutku menganga seketika. Apa yang kulihat sangat indah, dan paling indah mungkin yang pernah kulihat. Dan aku masih percaya bahwa saat ini benar-benar sedang sore hari.
"Jadi, harus naik kereta gantung itu?" tanyaku.
"Ya, Bapakmu harus naik kereta gantung kalau ingin segera sampai tujuan."
***
Apa itu?
Kereta gantung seluncur? Tiba-tiba aku mendapati kereta gantung seluncur yang bisa dinaiki dengan hanya membayar dua ribu rupiah. Mataku berbinar dan aku sangat ingin menaiki kereta itu. Tetapi Ibu masih di luar sana. Sedangkan jalur kereta gantung itu dari dalam rumah dan hingga ke ujung sana. Aku berada di dalam rumah sendirian sekarang setelah Bapak berangkat pergi ke kantor karena urusan mendadak. Aku memanggil Ibu untuk segera kembali masuk ke rumah.
"Ibu.. Jangan berada di langit terlalu lama. Aku ingin naik kereta gantung seluncur itu..." kataku. Ibu menoleh padaku dan memandang heran.
"Kalau ingin naik segera naik saja. Tak perlu khawatir."
"Tapi aku ingin meluncur sampai jauh ke ujung sana, jadi pastinya jangan sampai rumah ini dibiarkan kosong, kan?" kataku sambil sedikit bermanja.
"Baiklah, Ibu kembali ke dalam rumah.." Ibu pun masuk kembali ke rumah dengan sedikit terpaksa. Aku justru semakin kegirangan dan berlari menuju ke arah kereta gantung seluncur itu.
Di dekat kereta gantung seluncur, nampak dua orang pemuda. Ternyata mereka adalah petugas peluncur kereta gantung itu. Aku segera meraih dompetku dan mencari uang dua ribuan. Ya, ketemu! Dan aku menyodorkan uang itu dengan ceria ke salah satu pemuda. Pemuda itu memberi tahu padaku untuk bebas memilih kemana aku harus duduk. Aku memandang sekitar. Ternyata yang berminat untuk naik kereta gantung seluncur masih sedikit karena banyak kursi kosong. Sangat disayangkan, padahal aku sangat bersemangat untuk menaikinya. Awalnya aku ingin duduk di kursi bagian depan, tapi akhirnya aku memilih duduk di barisan kedua. Dan dua pemuda itu nampak tersenyum melihat tingkahku yang sedikit kekanak-kanakan ini.
***
Aaaaaaaaaaaaaaaaa.....!!
Aku berteriak sangat kencang.
Kereta gantung itu meluncur lebih cepat dari roller coaster yang pernah kulihat. Selama ini aku belum pernah naik roller coaster itu tapi aku justru sudah menaiki kendaraan yang jauh lebih kencang. Bagaimana kedua pemuda itu mendorong kereta gantung ini secara manual hingga mampu bergerak meluncur sangat cepat? Padahal lintasan ini sangat berbahaya dengan ketinggian yang tidak dapat kuukur. Aku sangat salut dengan kedua pemuda itu.
Satu periode telah selesai. Di saat kereta bergerak semakin perlahan, kedua pemuda itu mengajakku berbincang. Mulai bertanya di mana aku bersekolah, jurusan yang kuambil, dan sebagainya. Kedua pemuda itu sangat ramah dan sesekali tertawa. Ya, dan kereta pun berhenti.
***
"Aku ingin meluncur sekali lagi." kataku penuh harap. Belum puas aku meluncur kencang satu kali tadi. Salah satu dari mereka pun mengajakku untuk meluncur tanpa aku harus membayar.
"Ya, tapi kita meluncur berdua saja, ya.." katanya.
"Berdua saja?" Aku bertanya heran.
"Ya, berdua saja.. Aku akan membantumu mendorong kereta gantung seluncur ini dari belakang, dan kita akan meluncur bersama.."
"Baiklah.."
Entah, aku menurutinya.
***
Aaaaaaaaaaaaaaaaa.....!!
Kini aku kembali berteriak lepas lagi. Ya, kali ini hanya berdua saja. Dengan salah satu dari mereka.
***
Kereta gantung yang meluncur dengan kecepatan tinggi. Seandainya aku dapat mengubah kecepatan kereta ini menjadi slow motion, aku akan lebih berbahagia. Aku tak sempat memandang awan-awan di sekeliling lebih lama bersamanya, hingga tiba-tiba kereta telah berhenti.
Tak lama aku mulai merasakan akan segera berpisah dengan mereka, kedua pemuda itu. Aku baru saja bertemu dengan mereka, tapi aku merasakan ada sebuah perasaan yang sangat nyaman di dalam hatiku. Sebuah perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, bahkan kepada orang-orang yang telah lama kukenal.
Sesaat kemudian, kedua pemuda itu seperti sedang membicarakan sesuatu di belakangku. Sesekali tertawa, dan aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tiba-tiba mereka mendekat padaku. Salah satu dari mereka menyodorkan sehelai sobekan kertas kosong berukuran sekitar 4x5 cm. Sisi-sisi kertas nampak kurang rapih, namun aku berhasil dibuat berdebar karenanya.
"Ha?" Aku bertanya-tanya. Pemuda itu mengangguk dan teman di sampingnya menyenggol sambil tertawa. Sepertinya sedari tadi dia sudah mendukung dan menyulutkan keberanian temannya itu untuk berhadapan denganku. Walau tanpa kata aku sudah memahami apa maksud pemuda itu. Mereka pun berlalu dan aku memandangi kertas ini dengan hati yang bergejolak.
Aku ingin segera menulis nomer ponsel di kertas ini, tetapi dadaku berdegup kencang hingga kemampuan menulis indahku seakan lenyap. Aku tak ingin tulisanku terlihat jelek oleh pemuda itu. Dan tanganku terus gemetaran, makin sulit dikendalikan. Kreek, haaaaa...... Dan tiba-tiba kertasnya robek. Keringatku mengucur deras, panik dan khawatir, takut tiba-tiba mereka kembali sebelum aku siap. Aku segera mencari kertas pengganti yang ada di sekelilingku. Dan mencari yang terbaik di antara kertas-kertas yang ada.
Setelah mendapati kertas pengganti, aku mulai berancang-ancang menulis nomer ponsel. Tapi otakku masih juga berpikir. Tanganku masih tetap gemetar, dan dadaku masih belum berhenti berdegup kencang. Ku beranikan diriku untuk memulai menulis. Dan tanpa kusadari, aku mulai menulis kalimat pembuka, permintaan maaf, sedikit basa-basi, kata pengantar, sangat panjang seperti sebuah cerpen. Tulisan yang sangat buruk karena tanganku yang sangat susah untuk diatur. Belum selesai aku menulis, terdengar langkah kaki yang mendekat ke arahku. Mereka sudah datang?! Aku panik dan terburu-buru ingin segera menyelesaikan tulisan ini, tapi tak juga selesai.
"Sudah?" tanyanya. Aku sangat takut dia kecewa.
"Beluum.." jawabnya.
"Selama itu?" tanyanya. Mungkin dia heran karena ternyata butuh waktu sangat lama untuk menuliskan sebuah nomer ponsel.
"Tapi tenanglah... Pasti aku akan memberikan kertas ini padamu, kok. Pasti selesai, pasti.." kataku sambil memohon agar tidak kecewa.
Aku belum bisa menafsirkan aura wajahnya saat itu hingga tiba-tiba langit sore yang indah telah menghilang dari pandanganku. Kereta-kereta gantung, awan-awan yang seperti marshmallow, semua hilang secara perlahan ketika aku membuka mataku. Dan ya, ternyata aku bermimpi.
***
Aku sedih karena nomer ponselku belum sempat tertulis.
Aku tidak tahu kapan aku bisa bertemu dengan kedua pangeran itu lagi.
Surakarta, 21 Agustus 2015
Aku ingin meluncur sekali lagi
Meluncur dengan kencang
Berteriak dengan kencang
Berteriak lepas, bebas
Bergembira
Hanya denganmu aku dapat merasakannya..
Aku ingin meluncur sekali lagi
dengan kereta gantung seluncur
dan marshmallow di sekelilingku
Ini cerita waktu aku belum sekolah. Di suatu hari, ada pameran di kotaku, aku diajak orangtua untuk pergi kesana. Aku merengek minta dibelikan balon. Balon itu sangat menarik perhatianku. Ayah membelikanku dan aku tersenyum senang melihat balon yang berwarna hijau itu.
Sampai di rumah, aku bermain-main dengan balon itu. Berjalan kesana-kemari sambil memegang erat-erat. Balon itu jadi temanku. Aku tersenyum dan terus tersenyum.
Hingga beberapa waktu kemudian, balon hijauku meletus. Aku menangis, dan sedih. Ayah menghiburku agar tak menangis lagi. Katanya aku bisa beli lagi suatu saat nanti. Aku tetap saja sedih. Balon hijau meletus. Aku tak yakin akan dibelikan balon lagi esok hari.
Kupungut potongan-potongan balon pecah itu. Dan aku menyimpannya karena rasa sayangku pada balon itu.
[Memories]
Sampai di rumah, aku bermain-main dengan balon itu. Berjalan kesana-kemari sambil memegang erat-erat. Balon itu jadi temanku. Aku tersenyum dan terus tersenyum.
Hingga beberapa waktu kemudian, balon hijauku meletus. Aku menangis, dan sedih. Ayah menghiburku agar tak menangis lagi. Katanya aku bisa beli lagi suatu saat nanti. Aku tetap saja sedih. Balon hijau meletus. Aku tak yakin akan dibelikan balon lagi esok hari.
Kupungut potongan-potongan balon pecah itu. Dan aku menyimpannya karena rasa sayangku pada balon itu.
[Memories]
Tiba-tiba Bunda menghampiriku. Barangkali soal Cinta. Pasti Cinta. Dan ketiga kalinya, mungkin Cinta lagi. Mengapa selalu Cinta yang ada di pikirannya? Tak pernah sedikitpun aku? Tak pernah pula pohon-pohon yang ditanam itu, lalu bunga-bunga di pekarangan yang mekar itu untukku? Tetapi selalu untuk Cinta? Yang hadir selalu tanya di hatiku. Apakah aku tak berguna? Mungkinkah aku tak punya peran sama sekali di hidup ini?
Pagi ini Bunda mencari-cari Cinta. Tak hanya pada pagi ini. Sudah sering pada pagi-pagi sebelumnya, Bunda menanyakan soal Cinta. Ku jawab tak tahu. Karena aku memang tak mau tahu. Aku muak dan kesal dengan kata-kata Bunda yang selalu menyebut Cinta di setiap hidupku. Tak pernah sekalipun aku yang ditanyakannya. Padahal aku pun juga punya hak padanya. Mungkin sikapku bisa dibilang iri. Tapi sebenarnya aku tidak seperti itu. Aku hanya ingin diperhatikan. Bukankah itu wajar, mengingat aku adalah bagian dari keluarga ini bukan?
Cinta, saudara kembarku itu. Ia pernah sakit parah dan dibawa ke rumah sakit selama empat minggu. Cinta sekarat karena dia mengendarai motor dengan kencang hingga menabrak mobil di depannya yang tiba-tiba mengerem. Sehingga gerak kecepatan tidak tetap, dan terjadilah kecelakaan. Semula aku sedih dan bingung. Semua pun begitu. Setiap hari yang kudengar selalu keluh-kesah Bunda atas Cinta. Tak pernah Bunda absen menjenguknya di rumah sakit. Bunda pun rajin menanam pohon dan bunga-bunga di pekarangan. Bunda merangkai bunga, dan memberikannya pada Cinta. Di pohon-pohon itu, Bunda mengukir nama ’CINTA’ .Saat itu, aku hanya supirnya yang tak jua diperhatikan. Mungkin benar, Cinta pantas mendapatkan semua itu. Saat itu, aku juga berharap banyak agar Cinta segera sembuh. Tapi kini, Cinta pun tak peduli padaku.
“Na, coba tanya Cinta, dia sudah makan apa belum? “ tanya Bunda padaku yang sedang menyikat sepatu.
“Bunda, mengapa selalu Cinta? Mengapa tak pernah Tresna? Mengapa bunda tak pernah tanya tentangku? Mengapa, Bunda? Mengapa tak ada ukiran-ukiran nama ‘TRESNA’ di pohon-pohon yang ditanam Bunda? Dan mengapa Bunda tak pernah merangkai bunda untuk Tresna? Bunda, mengapa selalu Cinta?” ucapku yang akhirnya keluar juga. Selama ini ingin aku tanyakan hal itu, tapi tak berani. Bunda hanya menatapku wajahku dengan tatapan yang tak mudah kuartikan. Pancaran wajahnya yang biasanya bening, kini menakutkan hatiku. Apakah pertanyaanku demikian kasar?
Cinta, saudara kembarku itu. Yang satu bulan yang lalu pulang dari rumah sakit, kini sebenarnya sudah tampak segar dan sehat. Tak perlu lagi mendapatkan suapan bubur dari Bunda. Tapi sepertinya Bunda masih menganggap Cinta masih sakit dan butuh perhatian lebih. Padahal yang sekarang sakit itu justru aku. Karena sekarang, hatiku sakit akan sikap Bunda. Bunda tak pernah menanyakan tentangku.
Semenjak Cinta sembuh dari sakit, kini ia mulai lagi seperti dulu. Pulang sekolah ngluyur bersama temannya. Kunasehati dia agar tidak kluyuran karena Bunda sering mengkhawatirkannya. Tapi dia tak peduli. Cinta memang tak pernah peduli akan ucapanku. Aku kesal padanya, dan dia tak menanggapi. Ia seakan tak suka memiliki saudara kembar. Ia hanya ingin sendiri. Aku terima kenyataan itu dengan pahit.
“Tresna, Cinta kemana?” tanya Bunda dengan wajah cemas.
“Katanya dia pergi bersama temannya. Apakah Bunda tidak tahu? Dia tak suka ditanya.” jawabku.
“Bunda tidak mengerti maksudmu, Na.” keluh Bunda.
“Dia tidak suka dengan orang lain yang ingin tahu urusannya. Entah ia akan pulang atau tidak hari ini. Seperti sewaktu ia belum sakit. Bukankah dia dulu juga seperti itu?” kataku. Bunda menunduk. Mungkin Bunda ingin berkata setuju tapi tak mau.
***
Mengapa selalu Cinta? Yang selalu menghadirkan masalah di hidupku. Hari ini, dia tidak masuk sekolah tanpa alasan. Padahal tadi pagi kulihat dia berseragam sekolah dari rumah. Kami memang tidak pernah berangkat sekolah bersama. Aku menyesal tidak menyapanya tadi. Lalu kemana dia? Dan teman-teman menyalahkanku.
“Mengapa kau tidak menanyainya sewaktu dia berangkat?” tanya Ange.
“Seharusnya kalian berangkat bersama. “ kata Fega.
“Apakah kalian tidak akur?” tanya Soraya yang tak kujawab karena perkataan dan pertanyaan itu terus bertubi-tubi.
Semua khawatir dengan Cinta. Kelihatannya papan tulis, bangku-bangku dan aneka buku bacaan di ruang kelas ini juga tak memihak padaku. Benda-benda itu hanya diam dan tak membelaku. Semua tak peduli dengan perasaanku. Padahal sudah kubilang pada mereka bahwa aku benar-benar tak tahu.
“Tresna, kelihatannya kamu sedang ada konflik?” tanya Rosyana. Aku pun menceritakan semuanya. Dan dia prihatin.
“Aku tahu sikapmu benar, tapi.. tidak sepenuhnya benar, Na…” Mungkin wajar sikap bundamu karena teringat dengan peristiwa saat Cinta sakit. Semua orang tua pasti juga akan memberi perhatian lebih saat tahu anaknya sakit. Kamu tidak boleh membenci bundamu, Na.” nasehat Rosyana.
“Aku tidak membenci bundaku. Aku juga tidak membenci Cinta. Kukira kamu akan membelaku. Ternyata kamu sama saja seperti yang lain. Selalu menyalahkanku tanpa tahu apa masalahnya. ..” kataku ketus pada Rosyana. Lalu aku berdiri dan pergi keluar kelas.
Sungguh sakit. Sebenarnya aku tak tega berkata begitu pada Rosyana. Karena dia adalah teman terbaikku. Biarlah, aku sendiri saja. Memang Cinta yang selalu diharapkan. Memang selalu Cinta..
Mungkin sikapku memang salah. Ah, begitu rumit Dan aku tak mengerti semua ini.
***
Cinta, saudara kembarku itu. Menurutku namanya tidak cocok dengan sikapnya. Karena dia tidak punya cinta. Dia tak peduli dengan orang-orang yang memperhatikannya. Dia hanya suka pergi ke rumah sobatnya tanpa izin sehingga membuat Bunda khawatir. Cinta lupa sewaktu dia sakit. Banyak orang mendoakannya agar cepat sembuh. Dan sekarang sifatnya tak sedikitpun berubah.
Cinta, saudara kembarku itu. Sekalipun namanya Cinta. Mungkin dia benar-benar tak punya cinta. Sadarkah? Bahwa aku tak pernah pergi berdua dengannya seperti manusia-manusia kembar identik yang lain. Sewaktu kecil, Bunda sering membelikan benda-benda untukku dan Cinta dengan warna kembar, dan selalu kembar. Ia pun tak ingin kembaran, dan aku tak suka sikapnya itu.
***
Malam ini, kutatap bintang-bintang lewat jendela kaca kamarku. Bintang-bintang yang bertebar indah dan terang. Berkedip-kedip membuat semua yang menatapnya terkesima. Sayangnya hatiku tak seterang bintang-bintang itu. Hatiku yang berselimut debu membuatku penuh resah. Mungkin aku sama dengan Cinta. Kusadari aku memang tak punya perasaan. Aku terlampau egois. Sikapku tak selamanya benar. Aku menyadari. Mungkin selama ini Cinta juga punya masalah. Dan aku tak pernah saling mengungkapkan perasaan dengan Cinta. Sehingga hubungan kami kurang dekat. Ya Allah, kesalahanku demikian banyak hingga tak mungkin dapat kuhitung…
***
“Bunda,…” sapaku pada Bunda di meja makan di pagi. Senyum manisku tak seperti biasanya. Mulai hari ini, aku ingin menata hariku agar lebih baik. Aku tidak ingin bersikap egois meskipun dunia tak memperhatikanku. Kali ini Bunda tampak sedih. Senyumku tak dibalasnya. Wajah Bunda justru pucat. Lidahku kelu. Aku bingung dibuatnya, dan tak tahu harus berbuat apa. Apakah aku telah telat merubah sikap? Di meja makan ini, hanya ada Bunda dan aku. Tak ada Cinta. Ah, aku tak mau menilai buruk sikap Cinta. Mungkin dia kecapekan dan belum bangun.
“Kali ini Bunda tidak bertanya soal Cinta, Na..” ucap Bunda membuatku bingung. Aku menatapnya penuh tanya.
“Tapi Bunda cemas dan sedih. Sejak kemarin, Cinta belum pulang. Bunda ingin bertanya padamu. Tapi pasti kamu tak tahu kan kemana perginya Cinta?”
Astaga! Baru kusadari. Sejak kemarin aku tidak melihat Cinta. Dimanakah Cinta sekarang? Kulihat wajah Bunda sangat cemas. Aku merasa bersalah pada semua orang saat ini.
“Baiklah Bunda. Nanti coba kucari tahu kemana Cinta.” kataku membuat wajah Bunda sedikit berubah.
“O’iya, Na. Bunda ingin menjelaskan sesuatu padamu.” kata Bunda. Lalu Bunda mengajakku ke pekarangan rumah.
“Lihatlah pohon-pohon yang Bunda tanam. Tresna pernah bertanya kan, mengapa Bunda mengukir kata ‘CINTA’ pada batang pohon itu?”
“Iya,” jawabku.
“Sebenarnya bukan maksud Bunda seperti itu. Kamu mungkin merasa, dan Bunda juga merasa bahwa keluarga kita kurang bersatu karena kurangnya rasa cinta. Maka Bunda mengukir kata itu, agar kamu dan Cinta membacanya. Dan sadar agar memupuk rasa cinta. Dan kita bisa bersatu. Tanpa ada permusuhan. Sekarang kamu tahu maksud Bunda? Itu semua sudah Bunda mulai saat kalian lahir. Bunda beri kalian nama yang mirip. ‘Tresna’ itu, dalam bahasa Jawa berarti ‘cinta’. Bunda bingung dengan kalia. Yang tak seperti kembar-kembar yang lain.” Bunda menghela nafas.
“Iya, Bunda, maafkan Tresna yang selama ini salah.” ucapku. Semua kata-kata manis Bunda telah menyadarkanku.
“Terima kasih, Tresna.” ucap Bunda.
***
Berangkat sekolah pagi ini terasa berbeda. Padahal aku tak tahu harus mencari Cinta kemana. Dan aku bingung. Ah, kutanya Dyla saja nanti. Dyla adalah sobat kentalnya dari kelas sebelah.
“Aku tidak tahu, Na.” kata Dyla menyurutkan semangatku mencari tahu.
“Kemarin, dia memang membolos. Aku pun juga. Tapi setelah jam pulang sekolah , kami pun pulang ke rumah.” jelas Dyla.
Dyla pun bercerita bahwa selama ini Cinta bermain ke rumahnya karena punya konflik. Cinta frustasi dan merasa tak punya teman. Bahkan Cinta merasa saudara kembarnya tak lagi memperhatikannya. Dan saudara kembarnya itu, adalah aku… Hanya Dyla yang selama ini baik padanya. Dyla menjadi teman curhat Cinta. Semua penjelasan Dyla membuatku sedih. Karena ternyata selama ini, aku belum bisa menjadi saudara kembar yang baik. Mengapa selalu Cinta? Yang dulu menebarkan benci, kini menebarkan rindu. Cinta, kemana engkau pergi?
***
Bunda menangis dan memelukku seperti dua tahun lalu saat menerima telepon dari rumah sakit bahwa ayah meninggal. Dan kini Bunda menangis lagi.
“Tresna, Cinta telah pulang…” kata Bunda. Ucapannya seperti belum selesai. Aku hanya diam. Mungkin maksud Bunda kali ini lain. Aku sangat takut dan cemas menerka-nerka apa yang akan diucapkannya nanti.
“Cinta telah pulang, Na. Cinta meninggal. Tadi rumah sakit menelepon bahwa ada korban kecelakaan. Dan itu adalah Cinta, saudara kembarmu. Ternyata, kemarin Cinta kecelakaan. Dan jasadnya baru ditemukan tadi sesaat sebelum rumah sakit menelpon.” Bunda menangis. Pasti Cinta kecelakaan karena dalam pikirannya berkecamuk berbagai masalah yang menghantuinya. Sehingga kehilangan kendali. Aku merasa sangat bersalah.
Persendianku terasa ngilu. Semuanya sulit untuk kuterima. Mataku berkunang-kunang seperti ingin pingsan. Tapi semua itu kutahan. Mengingat Bunda yang kini butuh pelukan.
Oh, benar-benar menyedihkan. Cinta, saudara kembarku itu. Kini aku tak bisa menatap wajahnya lagi. Dan alam pun memisahkan kita. Padahal aku tak sempat meminta maaf padanya. Cinta, mengapa engkau pergi? Disaat aku baru menyadari apalah arti hidup ini tanpa dirimu. Dan ternyata, selama ini, Cinta tidak kluyuran saat pulang sekolah. Tetapi dia curhat dan sharing dengan temannya. Oh, selama ini akulah yang salah paham. Aku benci diriku sendiri. Yang selalu menilai buruk Cinta. Segala penyesalanlah yang hanya bisa kutelan. Dan itupun tak berguna. Padahal aku tak ingin mebuat pusing hidupku. Tetapi rasa salah terus menghantuiku. Maafkan aku, Cinta. Selamat jalan..
Mengapa selalu Cinta? Yang dulu membuatku kecewa, kini malah membuatku rindu. Semua ini memberiku pelajaran. Bahwa sikap egois hanya akan berbuah penyesalan. Dulu, aku memang tidak pernah mau tahu tentang Cinta karena kesal dengan sikap Bunda yang tak pernah memperhatikanku. Ini semua tak adil bagi Cinta. Mengapa aku harus membencinya? Padahal ia tak selalu salah.
Mengapa selalu Cinta? Sulit, dan rumit….












